Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Status Naik Menjadi Siaga Level III

erupsi gunung krakatau

LAMPUNG SELATAN – Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menetapkan status Gunung Anak Krakatau naik dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) menyusul meningkatnya intensitas erupsi dan aktivitas kegempaan. Aktivitas erupsi juga kembali tercatat pada awal Juli 2026.

Erupsi terbaru menghasilkan kolom abu vulkanik yang membumbung dari kawah. Meski aktivitas masih berfluktuasi, petugas pemantau gunung api terus melakukan pengawasan intensif untuk mengantisipasi kemungkinan peningkatan aktivitas lebih lanjut.

Seiring dengan peningkatan status tersebut, masyarakat, wisatawan, dan nelayan diminta untuk tidak mendekati kawasan Gunung Anak Krakatau sesuai radius bahaya yang telah ditetapkan oleh otoritas. Kapal-kapal yang melintasi perairan Selat Sunda juga diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lontaran material vulkanik, abu, maupun gangguan terhadap keselamatan pelayaran.

PVMBG mengingatkan masyarakat agar hanya mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan tidak mudah mempercayai video maupun informasi yang belum terverifikasi. Dalam beberapa hari terakhir beredar video yang diklaim memperlihatkan letusan besar Gunung Anak Krakatau, namun petugas memastikan video tersebut tidak menggambarkan kondisi erupsi terkini dan merupakan informasi yang menyesatkan.

Pemerintah bersama instansi terkait terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau selama 24 jam. Warga di sekitar kawasan Selat Sunda diminta tetap tenang, namun selalu meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti arahan dari petugas apabila terjadi peningkatan aktivitas gunung api.

Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif yang muncul setelah letusan dahsyat Krakatau pada tahun 1883. Hingga kini, gunung tersebut masih menjadi salah satu gunung api paling aktif di Indonesia dan terus dipantau karena aktivitasnya berpotensi memengaruhi kawasan Selat Sunda.

Redaksi Jagat Media Kuningan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *